CIFOR-ICRAF publie chaque année plus de 750 publications sur l’agroforesterie, les forêts et le changement climatique, la restauration des paysages, les droits, la politique forestière et bien d’autres sujets encore, et ce dans plusieurs langues. .

CIFOR-ICRAF s’attaque aux défis et aux opportunités locales tout en apportant des solutions aux problèmes mondiaux concernant les forêts, les paysages, les populations et la planète.

Nous fournissons des preuves et des solutions concrètes pour transformer l’utilisation des terres et la production alimentaire : conserver et restaurer les écosystèmes, répondre aux crises mondiales du climat, de la malnutrition, de la biodiversité et de la désertification. En bref, nous améliorons la vie des populations.

Reklamasi lahan kritis ultisol dengan menggunakan berbagai jenis tanaman penutup tanah dan pengaruhnya terhadap tanaman jagung

Reklamasi lahan kritis ultisol dengan menggunakan berbagai jenis tanaman penutup tanah dan pengaruhnya terhadap tanaman jagung
SEbagian besar Ultisol miskin bahan organik tanah dan usnur hara seperti P (phosphorus), denga pH tanah, kapasitas tukar kation yang rendah dan keracunan Al (aluminium) yang tinggi pada lapisan tanah yang lebih rendah. Lapisan tanah peka terhadap erosi tanah. Dalam kebiasaan (sementara) dan menjadi bero didominasi oleh alang-alang (Imperaca cylindrica). Imperata mempunyai efisiensi pemakaian unsur hara dan air yang tinggi dan mampu menghasilkan beberapa asa organik untuk menghambat pertumbuhan tanaman (allelopati). Salah satu cara pemecahan yang mungkin untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan menanam tanaman penutup tanah (sistem bero). Tanaman penutup tanah dengan pertumbuhan yang cepat dapat menolong untuk membatasi serbuan aImperata. Penekanan Imperata dengan menggunakan tanaman penutup tanah mungkin tergantung pada intensitas dan lamanya naungan. Beberapa dari penelitian yang berhubungan dengan peranan sistem bero terhadap peningkatan kesuburan tanah telah dilaporkan, akan tetapi sedikit sekali informasi yang tersedia tentang berapa lama pengaruhnya akan berakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mempelajari pengaruh masukan bahan organik yang berasal dari tanaman penutup tanah terhadap peningkatan sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah, (b) Untuk mengukur pengaruh peningkatan kesuburan tanah dengan menggunakan tanaman penutup tanah terhadap hasil jagung. Percobaan dilaksanakan di lahan bekas alang-alang pada Ultisol. Empat species tanaman yang digunakan: Pueraria phaseolodes, Chromolaena odorata, Peltophorum dasyrachis dan Imperata cylindrica. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Setelah dua tahun semua tanaman penutup tanah ditebang, semua biomass disebar di permukaan tanah. Kemudian jagung ditanam, masing-masing petak dibagi ke dalam empat petak. Empat perlakuan pemupukan adalah: tanpa pupuk (kontrol), 60 kg N ha-1, 26,2 kg P ha-1 dan 60 kg N ha-1 + 26,2 kg P ha-1. Hasil menunjukkan bahwa pemasukan biomass tertinggi (28,3 Mg ha-1) dihasilkan oleh Imperata, dan yang terendah oleh Chromolaena (2,5 Mg ha-1). Aktivitas mikrobia tanah (CO2) tertinggi didapatkan pada Imperata dengan + 9,01 mg kg-1 dibandingkan ketiga tanaman penutup tanah yang lain + 7,60 mg kg-1. Hasil yang sama juga didapatkan untuk N mikrobia tanah, walaupun pada akhir percobaan Pueraria menunjukkan yang tertinggi (6,12 mg kg-1). Didapatkan pengaruh yang tidak nyata dari tanaman penutup tanah terhadap mikrobia P dan parameter-parameter sifat fisik tanah yang lainnya. Jagung menunjukkan respon yang kuat terhadap pemupukan, menunjukkan bahwa pemakaian bahan organik saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan jagung. Kombinasi dari pemakaian N + P menghasilkan produksi biji yang tertinggi yaitu + 1,16 Mg ha-1 untuk musim tanam I dan + 0,96 Mg ha-1 untuk musim tanam ll. Sistim bero dengan menggunakan Pueraria menunjukkan basil biji jagung yang lebih baik daripada ketiga tanaman penutup tanah yang Iainnya. Hasil biji jagung yang dihasilkan adalah 1,11 Mg ha-1 untuk musim tanam I dan 0,81 Mg ha-1 untuk musim tanam ll.
Exporter la citation:
TI  - Reklamasi lahan kritis ultisol dengan menggunakan berbagai jenis tanaman penutup tanah dan pengaruhnya terhadap tanaman jagung 
AU  - Dawam 
AB  - SEbagian besar Ultisol miskin bahan organik tanah dan usnur hara seperti P (phosphorus), denga pH tanah, kapasitas tukar kation yang rendah dan keracunan Al (aluminium) yang tinggi pada lapisan tanah yang lebih rendah. Lapisan tanah peka terhadap erosi tanah. Dalam kebiasaan (sementara) dan menjadi bero didominasi oleh alang-alang (Imperaca cylindrica). Imperata mempunyai efisiensi pemakaian unsur hara dan air yang tinggi dan mampu menghasilkan beberapa asa organik untuk menghambat pertumbuhan tanaman (allelopati). Salah satu cara pemecahan yang mungkin untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan menanam tanaman penutup tanah (sistem bero). Tanaman penutup tanah dengan pertumbuhan yang cepat dapat menolong untuk membatasi serbuan aImperata. Penekanan Imperata dengan menggunakan tanaman penutup tanah mungkin tergantung pada intensitas dan lamanya naungan. Beberapa dari penelitian yang berhubungan dengan peranan sistem bero terhadap peningkatan kesuburan tanah telah dilaporkan, akan tetapi sedikit sekali informasi yang tersedia tentang berapa lama pengaruhnya akan berakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mempelajari pengaruh masukan bahan organik yang berasal dari tanaman penutup tanah terhadap peningkatan sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah, (b) Untuk mengukur pengaruh peningkatan kesuburan tanah dengan menggunakan tanaman penutup tanah terhadap hasil jagung. Percobaan dilaksanakan di lahan bekas alang-alang pada Ultisol. Empat species tanaman yang digunakan: Pueraria phaseolodes, Chromolaena odorata, Peltophorum dasyrachis dan Imperata cylindrica. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Setelah dua tahun semua tanaman penutup tanah ditebang, semua biomass disebar di permukaan tanah. Kemudian jagung ditanam, masing-masing petak dibagi ke dalam empat petak. Empat perlakuan pemupukan adalah: tanpa pupuk (kontrol), 60 kg N ha-1, 26,2 kg P ha-1 dan 60 kg N ha-1 + 26,2 kg P ha-1. Hasil menunjukkan bahwa pemasukan biomass tertinggi (28,3 Mg ha-1) dihasilkan oleh Imperata, dan yang terendah oleh Chromolaena (2,5 Mg ha-1). Aktivitas mikrobia tanah (CO2) tertinggi didapatkan pada Imperata dengan + 9,01 mg kg-1 dibandingkan ketiga tanaman penutup tanah yang lain + 7,60 mg kg-1. Hasil yang sama juga didapatkan untuk N mikrobia tanah, walaupun pada akhir percobaan Pueraria menunjukkan yang tertinggi (6,12 mg kg-1). Didapatkan pengaruh yang tidak nyata dari tanaman penutup tanah terhadap mikrobia P dan parameter-parameter sifat fisik tanah yang lainnya. Jagung menunjukkan respon yang kuat terhadap pemupukan, menunjukkan bahwa pemakaian bahan organik saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan jagung. Kombinasi dari pemakaian N + P menghasilkan produksi biji yang tertinggi yaitu + 1,16 Mg ha-1 untuk musim tanam I dan + 0,96 Mg ha-1 untuk musim tanam ll. Sistim bero dengan menggunakan Pueraria menunjukkan basil biji jagung yang lebih baik daripada ketiga tanaman penutup tanah yang Iainnya. Hasil biji jagung yang dihasilkan adalah 1,11 Mg ha-1 untuk musim tanam I dan 0,81 Mg ha-1 untuk musim tanam ll. 
PY  - 2000 
PP  - Malang, Indonesia 
UR  - https://www.cifor-icraf.org/knowledge/publication/30619/ 
ER  -
%T Reklamasi lahan kritis ultisol dengan menggunakan berbagai jenis tanaman penutup tanah dan pengaruhnya terhadap tanaman jagung 
%A Dawam 
%D 2000 
%C Malang, Indonesia 
%U https://www.cifor-icraf.org/knowledge/publication/30619/ 
%X SEbagian besar Ultisol miskin bahan organik tanah dan usnur hara seperti P (phosphorus), denga pH tanah, kapasitas tukar kation yang rendah dan keracunan Al (aluminium) yang tinggi pada lapisan tanah yang lebih rendah. Lapisan tanah peka terhadap erosi tanah. Dalam kebiasaan (sementara) dan menjadi bero didominasi oleh alang-alang (Imperaca cylindrica). Imperata mempunyai efisiensi pemakaian unsur hara dan air yang tinggi dan mampu menghasilkan beberapa asa organik untuk menghambat pertumbuhan tanaman (allelopati). Salah satu cara pemecahan yang mungkin untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan menanam tanaman penutup tanah (sistem bero). Tanaman penutup tanah dengan pertumbuhan yang cepat dapat menolong untuk membatasi serbuan aImperata. Penekanan Imperata dengan menggunakan tanaman penutup tanah mungkin tergantung pada intensitas dan lamanya naungan. Beberapa dari penelitian yang berhubungan dengan peranan sistem bero terhadap peningkatan kesuburan tanah telah dilaporkan, akan tetapi sedikit sekali informasi yang tersedia tentang berapa lama pengaruhnya akan berakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mempelajari pengaruh masukan bahan organik yang berasal dari tanaman penutup tanah terhadap peningkatan sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah, (b) Untuk mengukur pengaruh peningkatan kesuburan tanah dengan menggunakan tanaman penutup tanah terhadap hasil jagung. Percobaan dilaksanakan di lahan bekas alang-alang pada Ultisol. Empat species tanaman yang digunakan: Pueraria phaseolodes, Chromolaena odorata, Peltophorum dasyrachis dan Imperata cylindrica. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan masing-masing perlakuan diulang empat kali. Setelah dua tahun semua tanaman penutup tanah ditebang, semua biomass disebar di permukaan tanah. Kemudian jagung ditanam, masing-masing petak dibagi ke dalam empat petak. Empat perlakuan pemupukan adalah: tanpa pupuk (kontrol), 60 kg N ha-1, 26,2 kg P ha-1 dan 60 kg N ha-1 + 26,2 kg P ha-1. Hasil menunjukkan bahwa pemasukan biomass tertinggi (28,3 Mg ha-1) dihasilkan oleh Imperata, dan yang terendah oleh Chromolaena (2,5 Mg ha-1). Aktivitas mikrobia tanah (CO2) tertinggi didapatkan pada Imperata dengan + 9,01 mg kg-1 dibandingkan ketiga tanaman penutup tanah yang lain + 7,60 mg kg-1. Hasil yang sama juga didapatkan untuk N mikrobia tanah, walaupun pada akhir percobaan Pueraria menunjukkan yang tertinggi (6,12 mg kg-1). Didapatkan pengaruh yang tidak nyata dari tanaman penutup tanah terhadap mikrobia P dan parameter-parameter sifat fisik tanah yang lainnya. Jagung menunjukkan respon yang kuat terhadap pemupukan, menunjukkan bahwa pemakaian bahan organik saja tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan jagung. Kombinasi dari pemakaian N + P menghasilkan produksi biji yang tertinggi yaitu + 1,16 Mg ha-1 untuk musim tanam I dan + 0,96 Mg ha-1 untuk musim tanam ll. Sistim bero dengan menggunakan Pueraria menunjukkan basil biji jagung yang lebih baik daripada ketiga tanaman penutup tanah yang Iainnya. Hasil biji jagung yang dihasilkan adalah 1,11 Mg ha-1 untuk musim tanam I dan 0,81 Mg ha-1 untuk musim tanam ll. 
    Année de publication

    2000

    Auteurs

    Dawam

    Langue

    Indonesian

    Géographique

    Indonesia